<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[NOT THE SAME LOVE - Artikel]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/artikel]]></link><description><![CDATA[Artikel]]></description><pubDate>Wed, 08 May 2024 12:32:39 +0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Saya Seorang Kristen Baptis dan Saya Menyayangi Seorang Pria]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/artikel/saya-seorang-kristen-baptis-dan-saya-menyayangi-seorang-pria]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/artikel/saya-seorang-kristen-baptis-dan-saya-menyayangi-seorang-pria#comments]]></comments><pubDate>Wed, 23 Jan 2019 09:36:19 GMT</pubDate><category><![CDATA[friendship]]></category><category><![CDATA[same sex love]]></category><category><![CDATA[true love]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/artikel/saya-seorang-kristen-baptis-dan-saya-menyayangi-seorang-pria</guid><description><![CDATA[       KebenaranSaya merasa senang akhirnya bisa menyatakan secara umum, "Saya menyayangi seorang laki-laki." Saya seorang pendeta gereja baptis dan itu benar. Izinkan saya berbicara tentang hubungan ini.Saya bertemu dengan pria ini di kuliah. Selama tiga tahun, kamu menjadi teman yang paling dekat. Kami sering ngobrol hingga larut malam tentang banyak hal, baik yang serius maupun yang konyol. Kami telah merayakan kemenangan bersama dan juga saling menguatkan melewati masa susah, saat ujian, dan [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/bffid_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph"><strong>Kebenaran</strong><br /><br />Saya merasa senang akhirnya bisa menyatakan secara umum, "Saya menyayangi seorang laki-laki." Saya seorang pendeta gereja baptis dan itu benar. Izinkan saya berbicara tentang hubungan ini.<br /><br />Saya bertemu dengan pria ini di kuliah. Selama tiga tahun, kamu menjadi teman yang paling dekat. Kami sering ngobrol hingga larut malam tentang banyak hal, baik yang serius maupun yang konyol. Kami telah merayakan kemenangan bersama dan juga saling menguatkan melewati masa susah, saat ujian, dan pacaran. Saya sering kali tinggal sampai larut malam dan tertidur di sofa kamar asramanya atau bahkan tempat tidurnya selagi mencoba belajar pada dini hari.&nbsp;</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Setelah kuliah, dia merayakan dengan saya dan istri saya, Mindy, pernikahan kami. Dia sangat penuh dengan suka cita dan benar-benar bersuka cita dengan mereka yang bersuka cita. Ketika saya pindah ke Louisville dan dia kembali ke East Coast, orang pikir mungkin hubungan kami akan pelan-pelan menghilang. Tidak benar. Semakin kami menjadi dewasa dalam iman kami dan sebagai laki-laki, kasih kami satu untuk lainnya justru semakin mendalam. Waktu itu saya sibuk dengan seminari, bekerja di UPS, pernikahan, dan sebentar lagi anak-anak. Walaupun dia memiliki pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga, dengan penuh penuh perhatian dia mempertahankan hubungan kami lewat kartu-kartu, pembicaraan-pembicaraan di telpon, dan kunjungan-kunjungan.<br /><br />Dia merayakan anak pertama kami bersama-sama. Dia menghabiskan uang hasil kerja kerasnya dan waktunya yang berharga untuk terbang dan melihat kami di tahun-tahun awal. Dia begitu bahagia untuk menyambut anak kedua kami ke dunia ini. Dia adalah hadiah yang begitu berharga bagi keluarga kami yang begitu menyayangi keluarga anak-anak kami dan istri saya. Kedatangan dia sering kali diiringi dengan hadiah-hadiah dan selalu membuat hati kami penuh dengan suka cita yang dari Tuhan.<br /><br />Kami menghabiskan banyak waktu berbicara di telpon, Skype, dan berhubungan lewat e-mail. Sering kali kami berbicara sampai dua jam tentang pergumulan, kejadian, cerita-cerita lucu, dan kasih karunia Tuhan.<br /><br />Ketika istri saya dan saya pindah ke Newberry, South Caroline, dia tetap menungjungi kami. Bahkan, dia bersedia untuk datang dengan uangnya sendiri supaya dia bia membantu kami pindah dari Kentucky ke South Caroline. Sungguh suatu berkat memiliki dia bersama kami di awal perpindahan kami di Newberry.<br /><br />Kami membangun banyak hal bersama. Kami berlari bersama. Kami menikmati ciptaan Tuhan bersama.<br /><br />Saya pun diberkati untuk melihat Tuhan mengubah hatinya dan memanggil dia untuk masuk dalam pelayanan. Saya diberikan kesempatan untuk menuliskan surat rekomendasi bagi pria ini yang jiwa saya kasihi. Diam-diam saya bersuka cita ketika Tuhan memimpin dia ke jalan yang sudah saya jalani beberapa tahun sebelumnya dan saya berdoa supaya Tuhan memberikan dia seorang istri yang setia, penuh kasih, dan mendukung.<br /><br />Ketika saya bergumul di tahun pertama saya sebagai seorang pendeta, dia ada untuk saya. Dia menangis bersama saya. Dia menantang saya dan mendorong saya dan menyayangi saya. Dialah yang paling bisa mengerti dan berempati dengan kesakitan saya, selain istri saya. Dia menangis bersama saya dan istri saya saat kami kekuguguran. Dia ikut bersedih untuk keluarga kami.<br /><br />Untuk semua ini dan untuk masa depan dengan lebih banyak lagi kasih seperti ini, suka cita, dan persaudaraan Kristen, saya harus berkata, "Terima kasih Tuhan, untuk laki-laki yang saya sayangi ini."<br /><br /><strong>Kebohongan</strong><br /><br />Dua kelompok berkata bahwa kasih seperti ini tidak mungkin. Kelompok pertama, dunia. Jika saya menceritakan kepada siapa saja di jalanan tentang perasaan saya untuk pria ini, mereka sangat yakin bahwa saya sedang mengalami ketertarikan sesama jenis. Ini adalah dusta.<br /><br />Kelompok kedua, gereja. Banyak gereja mengajarkan bahwa "kasih persaudraan" dalam Alkitab hanya bisa terjadi lewat semangkok sayap ayam sambil menonton pertandingan UFC. Ini juga adalah sebuah dusta.<br />&nbsp;<br />Kita sebagai gereja telah menyerahkan cinta yang saya bagi dengan saudara seiman saya kepada kaum gay. Kita menjadi takut. Takut dianggap yang tidak-tidak oleh budaya kita, takut akan kerapuhan, takut yang sepertinya tidak Alkitabiah.<br /><br />Ini adalah dusta dari pangeran kegelapan. Dia ingin saudara seiman merasa tidak nyaman dengan benar-benar saling menyayangi. Dia telah memenyimpangkan kasih persaudaraan dengan homo-erotisme dan membuat kasih persaudaraan jauh dari orang percaya. Kita sebagai orang percaya tidak lagi bisa mengerti kasih yang diajarkan Petrus, yaitu sebuah "kasih persaudaraan yang tulus ikhlas" (1 Petrus 1:22) Di manakah kasih yang bercirikan dengan hati yang penyayang dan rendah hati (1 Petrus 3:8)?<br /><br />Iblis telah mencuri hubungan Daud-Yonatan dari kita, saudara-saudara dalam Kristus. Apa yang akan kamu lakukan tentang itu? Menyayangi pria lain dengan segenap jiwamu (1 Samuel 18:1) bukanlah cinta homoseks, tapi itu adalah kasih Kristus. Inilah kasih dengan kerelaan untuk memberikan nyawamu bagi saudara-saudaramu (1 Yohanes 3:16). Kita harus membangun hubungan-hubungan seperti ini satu dengan yang lainnya: pria-pria yang benar-benar menyayangi pria-pria lain.<br /><br />Saudara-saudara, jika kita menunjukkan kasih Kristus satu untuk yang lainnya, maka kita kita akan memiliki kredibilitas terhadap kaum gay. Mereka tidak percaya bahwa kita tidak bisa mengasihi pria lain. Mari kita buktikan mereka salah. Mungkin setelah itu, setelah melihat terang yang benar akan Injil dan kasih Kristus, mereka akan tertarik untuk keluar dari kegelapan di mana Iblis membelenggu mereka dan masuk ke dalam terang Kristus yang ajaib akan pengorbanan diri-Nya yang penuh kasih.<br /><br />diterjemahkan dari&nbsp;<a href="http://www.thegospelcoalition.org/article/im-southern-baptist-and-i-love-a-man?fbclid=IwAR2Wmd1Rhku4TWp9NJ4Y34Pt3ndNlIoukV6eN2rnsYAVnw1swu-ydolFvwI" target="_blank"><span>http://</span><span>www.thegospelcoalition.org/</span><span>article/</span><span>im-southern-baptist-and-i-l</span>ove-a-man</a><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Wabah yang Tidak Dibicarakan: Penderitaan Tersembunyi dari Pria Gay]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/artikel/wabah-yang-tidak-dibicarakan-penderitaan-tersembunyi-dari-pria-gay]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/artikel/wabah-yang-tidak-dibicarakan-penderitaan-tersembunyi-dari-pria-gay#comments]]></comments><pubDate>Fri, 21 Apr 2017 04:43:21 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/artikel/wabah-yang-tidak-dibicarakan-penderitaan-tersembunyi-dari-pria-gay</guid><description><![CDATA[       Ide membawa konsekuensi dan ide buruk membuat korban. Begitu juga dengan janji palsu akan cinta dan kepuasaan diri.Lebih dari satu setengah tahun setelah keputusan Obergefell (legalisasi pernikahan gay), perdebatan tentang "pernikahan" gay telah surut, sebagaian karena pemilu, sebagian karena huruf "T" dalam akronim LGBT mencuri berita utama, dan sebagian karena Obergefell dianggap sebagai sudah beres. Dan sangat disayangkan karena yang katanya "kemajuan", ternyata itu tidak membawa mimpi [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/gaysufferingid_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph">Ide membawa konsekuensi dan ide buruk membuat korban. Begitu juga dengan janji palsu akan cinta dan kepuasaan diri.<br /><br />Lebih dari satu setengah tahun setelah keputusan Obergefell (legalisasi pernikahan gay), perdebatan tentang "pernikahan" gay telah surut, sebagaian karena pemilu, sebagian karena huruf "T" dalam akronim LGBT mencuri berita utama, dan sebagian karena Obergefell dianggap sebagai sudah beres. Dan sangat disayangkan karena yang katanya "kemajuan", ternyata itu tidak membawa mimpi yang dijanjikan.<br /><br />Dalam tulisan yang bisa dibilang paling jujur dalam sejarah Huffington Post, Michael Hobbes, seseorang yang mengaku gay, menuliskan tentang apa yang dia sebut sebagai "wabah kesepian".</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">"Selama bertahun-tahun," dia mulai, "Saya memperhatikan adanya perbedaan antara teman-teman saya yang hetero dan teman-teman saya yang gay. Sementara sebagian dari lingkaran sosial saya telah menghilang dalam hubungan (serius), anak-anak, dan daerah pinggiran kota, sebagian lainnya bergumul dengan pemisahan dan kegelisahan, obat-obatan dan prilaku berisiko."<br /><br />Dari cerita demi cerita dan segudang statistik, Hobbes mendokumentasikan sebuah kecendrungan yang tetap dan mengerikan di antara mereka yang memiliki gaya hidup yang sama dengannya. "Pria gay di mana saja pada tiap usia," tulisnya, "dua sampai sepuluh kali lebih rentan terhadap bunuh diri ketimbang pria hetero."<br /><br />Dan itu hanyalah permulaan saja. Pria homoseks juga memiliki kerentanan yang lebih tinggi akan penyakit kardiovaskular, kanker, alergi, asma, dan sejumlah besar infeksi dan kelainan yang berhubungan dengan prilaku. Mereka dua kali lebih mungkin mengalami masa depresi mendalam, menyatakan memiliki teman dekat lebih sedikit, dan penggunaan narkoba pada tingkat berbahaya.<br /><br />Bahkan hidup dalam yang katanya "lingkungan gay" hanya akan mendorong prilaku berisiko dan penggunaan metamphetamin. Dan, tambah Hobbs, kaum gay berlaku brutal dan buruk terhadap anggotanya sendiri. Aplikasi kencan dalam ponsel pintar menimbulkan kebiasaan mengeksploitasi dan seks bebas. Menurut seorang pria muda yang diwawancara, itu membuat dia merasa hanya sebagai "seonggok daging."<br /><br />Kita sering mendengar cerita dan statistik buruk yang mengkambinghitamkan homofobia, bullying, dan rasa malu. Karena diperlakukan tidak baik semenjak dari kecil, pria seperti penulis ini -beginilah mitos yang sering diulang- dipaksa untuk hidup dalam kebohongan. Mereka depresi karena mereka telah ditekan dan ditindas.<br /><br />Tapi ada masalah dengan hipotesa bullying. Dalam negara-negara seperti Belanda dan Swedia di mana "pernikahan" sejenis telah menjadi legal semenjak bertahun-tahun lamanya, pria gay di sana tetap tiga kali lebih rentan pada gangguan suasana hati dan tiga sampai sepuluh kali lebih rentan terhadap prilaku yang membahayakan diri dan bunuh diri.<br /><br />Situasinya begitu buruk sehingga salah satu responden dalam sebuah survei dari beberapa klinik HIV mengatakan pada para peniliti, "Masalahnya adalah bukannya mereka tidak tahu bagaimana untuk menyelamatkan hidup mereka, masalahnya adalah mereka tidak tahu jika hidup mereka itu cukup berharga untuk diselamatkan."<br /><br />Anehnya, setelah pemaparan yang panjang, brutal, dengan dalil yang bagus, Hobbes kemudian menyimpulkan bahwa penyebab itu semua adalah status sebagai minoritas yang mengajarkan mereka untuk hidup dalam ketakutan. Tidak sekalipun dia mempertimbangkan kemungkinan bahwa gaya hidup itulah yang merusak kehidupan para pria ini.<br /><br />Namun, pendapat satu orang yang dikutip dalam artikel itu memberi petunjuk bahwa dia tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Christopher Stults, seorang peniliti di New York University, mengakui bahwa bagi kebanyakan orang legalisasi pernikahan gay hanyalah sebuah kekecewaan. "Kita memiliki status legal ini, namun masih ada yang terasa kurang."<br /><br />Mungkinkah itu karena gaya hidup ini menjauhkan kaumnya dari keluarga alamiah, anak-anak, dan -menurut statistik bertahun-tahun- hubungan monogamis? Mungkinkah perbedaan yang Hobbes lihat antara yang dia inginkan dan yang dia dapatkan adalah karena gaya hidup yang buruk? Mungkinkah prilaku homoseks secara alamiah memisahkan orang? Mungkinkah Tuhan tidak merancang ciptaan-Nya yang menyandang citra-Nya untuk hidup seperti itu, dan saat kita melakukannya, itu menghancurkan kita?<br /><br />Sayangnya pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dipertimbangkan Hobbes atau para peniliti sosial. Tetapi kita sebagai masyarakat dan terutama gereja harus mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini. Selama masih ada orang-orang yang mencoba mengisi hati mereka dengan kebohongan, mengasihi mereka berarti memiliki pikiran yang lebih terbuka daripada Huffington Post.<br /><br />Lihat <a href="http://breakpoint.org/2017/03/breakpoint-the-silent-suffering-of-gay-men/" target="_blank">artikel sumber</a></div>]]></content:encoded></item></channel></rss>