<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[NOT THE SAME LOVE - Kesaksian]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2]]></link><description><![CDATA[Kesaksian]]></description><pubDate>Wed, 08 May 2024 15:13:15 +0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Kasih Yesus memuaskan saya]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/kasih-yesus-memuaskan-saya]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/kasih-yesus-memuaskan-saya#comments]]></comments><pubDate>Tue, 25 Aug 2020 15:04:50 GMT</pubDate><category><![CDATA[hindu]]></category><category><![CDATA[penerimaan]]></category><category><![CDATA[penolakan]]></category><category><![CDATA[sendiri]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/kasih-yesus-memuaskan-saya</guid><description><![CDATA[       &#8203;Masa kanak-kanak saya bukanlah pengalaman yang bahagia. Orang tua saya sangat ingin memberikan saya hidup yang bermakna ke depannya tetapi tidak ada orang yang meneguhkan jati diri saya sebagai laki-laki. Ibu saya dulu biasa memakaikan pakaian perempuan ketika saya masih sangat kecil. Sejak masih kecil saya bingung tentang jati diri saya. Saya tumbuh besar dengan anak-anak lain di lingkungan teatpi pertumbuhan saya sebagai anak-anak tidak sebahagia dan berkembang seperti anak-anak  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/amit-id_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph">&#8203;Masa kanak-kanak saya bukanlah pengalaman yang bahagia. Orang tua saya sangat ingin memberikan saya hidup yang bermakna ke depannya tetapi tidak ada orang yang meneguhkan jati diri saya sebagai laki-laki. Ibu saya dulu biasa memakaikan pakaian perempuan ketika saya masih sangat kecil. Sejak masih kecil saya bingung tentang jati diri saya. Saya tumbuh besar dengan anak-anak lain di lingkungan teatpi pertumbuhan saya sebagai anak-anak tidak sebahagia dan berkembang seperti anak-anak lain. Saya dirundung (bully) teman-teman baik di lingkungan juga di sekolah.</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">&#8203;Semua pengalaman ini mengunci saya dalam kotak kebingungan, keminderan, kesedihan, kesendirian, depresi, dan lain-lain. Semua pertemanan saya sifatnya dangkal. Saya tidak pernah punya seorang teman yang dekat dan tulus di masa kanak-kanak. Hati saya yang masih anak-anak merindukan persahabatan, kasih, dan penerimaan tetapi saya tidak pernah mendapatkan seperti yang saya mau di antara teman-teman saya.<br /><br />Suatu hari seorang teman mengundang saya ke gereja. Saya pun ke gereja untuk pertama kalinya. Dan selagi saya terus pergi ke gereja setiap minggu, saya merasa bahwa gereja adalah tempat pelarian dari semua rasa sakit dan kesendirian yang saya alami seamasa hidup saya. Pada saat penyembahan, saya mengalami sukacita, damai, dan kebebasan berekspresi. Singkat kata saya mengalami hadirat Tuhan mengalir deras bagai air mancur ke dalam jiwa saya yang letih. Saya terus merindukan hadirat Tuhan yang memuaskan jiwa yang letih.<br /><br /><em>Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10)</em><br /><br /><u><strong>Pergumulan saya dengan sekesualitas</strong></u><br />Dari sejak usia dini saya mengalami ketertarikan kepada laki-laki dan merasa bingung akan jati diri saya. Kebingungan dan kesendirian membawa saya kepada kenikmatkan romanitsme dengan pria dan saya melakukan hubungan seksual dengan pria sejak usia sangat muda. Saya pergi ke gereja tetapi rasa bersalah, rasa malu, dan penghakiman selalu menghantui saya. Saya pikir ketertarikan terhadap laki-laki itu wajar dan Tuhan menciptakan saya seperti ini tetapi kebohongan dan kebingungan ini (waktu itu tak pernah terpikirkan kalau itu sebuah dusta) membawa saya kepada pilihan-pilihan yang tidak sehat dan berbagai hubungan seksual yang selalu berujung pada depresi, sakit hati, kesendirian, pengkhianatan, dan lain-lain. Saya sangat ingin bebas dari gaya hidup yang saya jalani. Akhirnya saya terbuka kepada pendeta-pendeta saya dan mencari pertolongan dari mereka. Mereka adalah orang yang mengatakan kebenaran dari firman Tuhan bahwa homoseksualitas adalah sebuah dosa, Tuhan tidak menciptakan saya seperti ini, dan ada harapan bagi saya dalam Yesus.<br /><br />Saya mengalami pembebasan dalam hidup saya saat saya menceritakan pergumulan rahasia saya dengan pendeta-pendeta saya dan mereka terus menolong saya untuk keluar dari gaya hidup ini dengan mengaishi saya, berdoa bagi saya, melibatkan saya dalam kegiatan gereja, konseling, dan sebagainya.<br /><br /><u><strong>Kasih Yesus memuaskan saya</strong></u><br />Seperti saya katakan sebelumnya, saya sangat merindukan persahabatan, kasih, dan penerimaan sejati dari teman-teman saya seperti yang saya inginkan tetapi saya tidak pernah merasakan kepuasan yang mendalam akan kasih di lubuk hati saya yang terdalam dari dunia ini.<br /><br />Kerinduan hati saya untuk kasih dipuaskan dengan hubungan sejati dengan Yesus. Menghabiskan waktu setiap hari dalam hadirat-Nya memuaskan saya sepenuhnya. Saya sangat yakin bahwa kasih dan hadirat-Nya memang benar lebih baik dari apapun di dunia ini.<br /><br />Saya mendapatkan persahabatan sejati dan bermakna dalam keluarga Tuhan yang tidak saya dapatkan dalam dunia ini.<br /><br />Sekarang saya tidak lagi bergumul seperti dahulu. Sekarang Yesus adalah Tuhan dalam hidup saya. Yesus telah memberikan saya kebebasan untuk memilih yang sebelumnya tidak saya miliki. Yesus menolong saya setiap hari untuk memilih kasih-Nya ketimbang godaan yang datang.<br /><br />Amit Ghosh.<br /><br /><em>Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." (Yohanes 7:37-38)</em><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Andre Bekker: Saya Dulu Tertarik pada Anak Laki-Laki]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/andrebekker]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/andrebekker#comments]]></comments><pubDate>Sun, 01 Sep 2019 10:08:33 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/andrebekker</guid><description><![CDATA[       Saya besar di sebuah keluarga di mana orang tua saya adalah orang Kristen yang taat melayani Tuhan dengan segenap hati mereka. Mereka membesarkan anak-anak mereka sebaik mungkin menurut jalan Tuhan. Walaupun demikian, di usia dini saya menyadari bahwa saya memiliki ketertarikan luar biasa terhadap sesama jenis. Bahkan saya berfantasi berhubungan dengan anak laki-laki yang lebih muda. Ketika saya berusia sekitar 12 tahun, saya berteman dengan teman-teman adik saya. Usianya 3.5 tahun lebih  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/andreid_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph">Saya besar di sebuah keluarga di mana orang tua saya adalah orang Kristen yang taat melayani Tuhan dengan segenap hati mereka. Mereka membesarkan anak-anak mereka sebaik mungkin menurut jalan Tuhan. Walaupun demikian, di usia dini saya menyadari bahwa saya memiliki ketertarikan luar biasa terhadap sesama jenis. Bahkan saya berfantasi berhubungan dengan anak laki-laki yang lebih muda. Ketika saya berusia sekitar 12 tahun, saya berteman dengan teman-teman adik saya. Usianya 3.5 tahun lebih muda dari saya. Dalam waktu sebentar saja pertemanan saya dengan teman-teman adik saya mulai bersifat seksual. Tidak lama hubungannya menjadi lebih sekedar perasaan dan hasrat. Walaupun tidak seorang pun pernah bilang ke saya kalau hubungan seperti itu salah dan tidak alamiah, saya bisa merasakan di lubuk hati saya bahwa ketertarikan terhadap sesama jenis itu salah dan tidak alamiah.</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Seiring bertambahnya usia, saya melihat bahwa teman-teman laki-laki saya mulai tertarik pada perempuan tetapi ketertarikan saya kepada anak laki-laki malah semakin menguat. Saya pun sangat terpukul saat saya menyadari bahwa orientasi saya adalah kepada anak laki-laki yang lebih muda. Saya pikir itu akan berubah saat saya selesai sekolah tetapi malah timbul kebencian kepada pria yang lebih tua. Semakin tua semakin saya tidak suka. Saya hanya tertarik pada anak laki-laki kisaran usia 10-20 tahun. Semakin tua usianya, dia harus terlihat muda dan polos.<br /></span><br /><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Namun Tuhan pun mengadakan titik balik dalam kehidupan saya dan saya percaya sekali bahwa itu semua karena doa-doa ibu saya. Waktu itu, 10 September 2001, saya berusia 34 tahun dan bekerja sebagai pelatih di sebuah sekolah khusus. Saya tidak pernah bekerja malam tetapi karena malam itu ada kekurangan staf akhirnya saya diminta untuk bekerja malam. Keesokan paginya saya menerima telepon dari kepala sekolah. Dia bilang dia ingin bertemu saya dan bertanya jika dia bisa datang ke rumah. Saya jawab iya. Dia pun datang dan menginformasikan bahwa salah satu anak mengeluh karena dia mengaku dilecehkan secara seksual oleh saya saat bekerja malam. Saya pun diberi peringatan dan diskors selagi masalahnya dalam penyelidikan.<br /></span><br /><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Saya diskors selama 6 minggu dan suatu ketika saya diperintahkan untuk datang ke kantor kepala sekolah. Saya mendengar kabar bahwa masalah ini sekerang berada di tangan kepolisian. Itulah mimpi terburuk saya. Saya memang selalu takut bahwa suatu saat saya akan menghadapi hukum.<br /></span><br /><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Setelah tiba di kantor kepala sekolah, saya menunggu selama dua jam sampai seorang detektif datang dan memperkenalkan diri kepada saya. Dia kemudian bilang kepada saya bahwa anak itu mengaku kepada mereka bahwa dia berbohong dan bahwa saya tidak pernah melecehkan anak tersebut. Saya pun merasa sangat lega dan bersyukur bersamaan karena saya melihat kejadian ini sebagai peringatan bagi saya untuk mengubah hidup saya yang pada waktu sedang kacau tanpa tujuan dan suka cita.<br /></span><br /><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Saya mencari pertolongan di Afrika selatan tetapi tidak bisa menemukannya. Akhirnya saya menghubungi beberapa organisasi di Amerika Serikat dan satu organisasi menjawab saya. Itulah awal dari perjalanan pemulihan saya selama empat tahun dengan pertolongan psikoterapi. Saya juga kembali kepada Tuhan, lahir baru, dan melalui hubungan saya dengan Tuhan saya merasakan kuasa besar Roh Kudus yang mengubah diri dan memperbaharui pikiran bekerja dalam diri saya. Banyak hal mulai berubah dalam hidup saya.<br /></span><br /><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Secara bertahap perubahan mulai terjadi di pikiran saya, luka batin disembuhkan, dan rasa malu dan rasa bersalah diatasi. Perubahan besar terjadi saat saya semakin menyadari jati diri saya dalam Yesus Kristus. Di tahun 2004 saya bertemu dengan istri saya dan tahun ini kami merayakan 15 tahun pernikahan kami.<br /></span><br /><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Yang luar biasa adalah istri saya adalah janda dengan dua anak laki-laki remaja. Dan sejujurnya saya bertanya pada Tuhan jika Dia sadar apa yang Dia sedang lakukan dengan membiarkan saya menikah dengan seorang wanita dengan dua anak laki-laki. Saya bertanya jika Tuhan sudah lupa masa lalu saya. Di saat itulah Tuhan menunjukkan kuasa-Nya yang luar biasa. Pekerjaan Tuhan dalam hidup saya begitu ajaib tidak hanya ketertarikan sesama jenis saya berubah menjadi ke lawan jenis, yaitu istri saya, tetapi juga ketertarikan saya yang tadinya hanya kepada anak kecil atau anak remaja laki-laki menjadi kepada perempuan dewasa. Sungguh sangat berarti kepercayaan yang Tuhan berikan kepada saya untuk membesarkan kedua anak laki-laki saya.<br /></span><br /><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Para aktifis (LGBT), melalui ilmu pengetahuan, psikologi, dan psikiatri mencoba untuk meyakinkan dunia bahwa tidak mungkin mengubah orientasi seksual baik dari segi jenis kelamin atau umur dengan alasan bahwa itu bawaan dari lahir. Namun Tuhan membuktikan mereka sama sekali salah.<br /></span><br /><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Saya masih dalam tungku pembakaran Tuhan saya untuk dibentuk setiap hari semakin serupa dengan citra-Nya. Untuk inilah saya yakin bahwa ketika saya melihat ke belakang dan berpikir bagaimana saya bisa sampai sejauh ini, itu bukan karena kuat dan hebat saya tetapi karena Tuhan kuat dan hebat. Bukan saya yang konsisten tapi Dia yang setia. Saya menyebutnya <strong>kasih karunia Tuhan yang ajaib.</strong></span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Pertemuan yang Ditakdirkan di Natal LGBT]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/pertemuan-yang-ditakdirkan-di-natal-lgbt]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/pertemuan-yang-ditakdirkan-di-natal-lgbt#comments]]></comments><pubDate>Fri, 18 Jan 2019 18:28:11 GMT</pubDate><category><![CDATA[lesbi]]></category><category><![CDATA[proLGBT]]></category><category><![CDATA[STT]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/pertemuan-yang-ditakdirkan-di-natal-lgbt</guid><description><![CDATA[       Sebulan yang lalu saya dan dua orang teman menghadiri sebuah perayaan "natal" untuk mendukung LGBT (#QueerChristmas) di kapel STT Jakarta (Sekolah Tinggi Filsafat Jakarta). Kami tinggal sampai akhir acara dan puji Tuhan tadi setiap orang di situ diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri sehinga kami bertiga bisa menyampaikan apa yang Roh Kudus taruh dalam hati kami.      Reaksi mereka agak heran karena kami hadir di&nbsp;situ tapi kami tidak lagi hidup sebagai gay. Jujur saya sempat  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/paskid_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph"><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Sebulan yang lalu saya dan dua orang teman menghadiri sebuah perayaan "natal" untuk mendukung LGBT (</span><a href="https://www.facebook.com/hashtag/queerchristmas?epa=HASHTAG">#QueerChristmas</a><span style="color:rgb(28, 30, 33)">) di kapel STT Jakarta (Sekolah Tinggi Filsafat Jakarta). Kami tinggal sampai akhir acara dan puji Tuhan tadi setiap orang di situ diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri sehinga kami bertiga bisa menyampaikan apa yang Roh Kudus taruh dalam hati kami.</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Reaksi mereka agak heran karena kami hadir di</span><span style="color:rgb(28, 30, 33)">&nbsp;situ tapi kami tidak lagi hidup sebagai gay. Jujur saya sempat gugup dan takut waktu perkenalan diri tapi Roh Kudus yang berikan saya kasih untuk melakukannya.<br /><br />Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 1 Yohanes 4:18<br /><br />Setelah itu, seorang perempuan muda pun datang kepada kami. Kami berkenalan dan dia menanyakan soal kesaksian saya. Setelah saya bercerita, dia pun bercerita tentang hidupnya. Dia sempat memiliki pasangan perempuan tapi hati nuraninya merasa itu salah sehingga akhirnya dia berdoa supaya Tuhan buat pasangannya melupakan dia. Akhirnya doa dia pun terjawab. Tapi sekarang dia jadi bingung tentang jati diri dia. Dia sempat mengalami depresi selama sebulan bahkan sampai muntah-muntah tiap hari. Dia datang ke acara ini dengan harapan mencari kebenaran dan ternyata puji Tuhan, dia bertemu dengan kami dan kebenaran pun sudah disampaikan. Dia sangat menerima penyampaian kami dan bahkan bersedia bertemu lagi. Dia sempat berderai air mata saat kami bilang bahwa kami mengerti pergumulan dia. Tolong doakan perempuan ini supaya hidupnya benar-benar diubahkan. Kami percaya bukan suatu ketidaksengajaan kami bertemu dengan dia dan tidak hanya itu kami percaya benih yang kami sudah tabur tadi akan bertumbuh juga di hati orang-orang lain yang ada di situ pada waktu-Nya.&nbsp;<br /><br />Saudara-saudara seiman, baiklah kita tidak takut menyampaikan kebenaran tetapi jangan lupa sampaikan kebenaran dengan kasih. Mari kita juga berdoa untuk kelompok ini supaya mereka pun boleh dipulihkan oleh kasih Tuhan yang sempurna.<br /><br />tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4:15</span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Konferensi International Mantan LGBT]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/konferensi-international-mantan-lgbt]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/konferensi-international-mantan-lgbt#comments]]></comments><pubDate>Thu, 17 Jan 2019 04:15:28 GMT</pubDate><category><![CDATA[gay]]></category><category><![CDATA[konferensi]]></category><category><![CDATA[lesbi]]></category><category><![CDATA[transeksual]]></category><category><![CDATA[transgender]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/konferensi-international-mantan-lgbt</guid><description><![CDATA[       Saya telah diberikan kehormatan untuk ikut dalam Dare to Change (Berani berubah), sebuah konferensi internasional mantan LGBT di Taipei, Taiwan dari tanggal 8-11 November 2018. Lebih dari 15 mantan LGBT dari 15 negara berbeda datang untuk merayakan cinta dan perubahan oleh Yesus Kristus. Tidak hanya kami diberikan kesempatan untuk menyatakan secara umum pekerjaan Tuhan dalam hidup kami tetapi kami&nbsp;juga mendapatkan kenalan baru dan bisa saling menguatkan dalam perjalanan ini. Saya san [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/dare2changeid_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph"><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Saya telah diberikan kehormatan untuk ikut dalam Dare to Change (Berani berubah), sebuah konferensi internasional mantan LGBT di Taipei, Taiwan dari tanggal 8-11 November 2018. Lebih dari 15 mantan LGBT dari 15 negara berbeda datang untuk merayakan cinta dan perubahan oleh Yesus Kristus. Tidak hanya kami diberikan kesempatan untuk menyatakan secara umum pekerjaan Tuhan dalam hidup kami tetapi kami</span><span style="color:rgb(28, 30, 33)">&nbsp;juga mendapatkan kenalan baru dan bisa saling menguatkan dalam perjalanan ini. Saya sangat diberkati oleh acara ini.</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Karen (Singapura), mantan lesbi dan aktifis LGBT, pasangan lesbian pertama yang menikah di Kanada, sekarang dia menikah dengan Yesus Kristus</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Alessio (Italia), mantan "kristen gay" menjadi penginjil</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Shirley (Selandia Baru), mantan lesbi menjadi anak Tuhan, istri, dan perintis pelayanan mantan LGBT di Australia</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Luis (Puerto Rico) dan Angel, korban penembakan klub gay Pulse (Orlando) sekarang pemenanang dalam Yesus Kristus</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Sihol (Indonesia), mantan gay dan ateis sekarang pembicara mantan LGBT</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Jesus (Kolombia), mantan waria dan pelacur menjadi penginjil</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Jonah (Korea), mantan gay dan pemilih klub gay pertama dan salah satu yang terbesar di Seoul, Korea menjadi pendeta dan pelopor gerakan mantan LGBT di Korea</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Asahara (Jepang), mantan ex-gay sekarang penyanyi untuk Kristus</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Tryphena (Malaysia), mantan lesbi menjadi pelayan Tuhan</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Jim (Amerika Serikat), mantan gay sekarang pendeta, suami, dan ayah dari tiga anak</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Gloria (Hongkong), mantan lesbi sekarang anak Tuhan</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Laurie (Australia), mantan lesbi menjadi istri, ibu dua anak, dan pelopor pelayanan mantan LGBT di Australia</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">James (Inggris), mantan gay sekarang ayah dan pembicara untuk gerakan mantan LGBT</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Wayne (Taiwan), mantan gay menjadi suami dan dia salah satu penyelenggara konferensi ini</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Mark (Filipina), mantan waria sekarang anak Tuhan</span><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">...dan banyak lagi</span><br /><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Selagi si jahat memaksa bangsa-bangsa untuk tidak hanya membiarkan bahkan merayakan penyimpangan seksual, Tuhan tidak tinggal diam dan membangun tentara-Nya secara mendunia untuk melawan si jahat dengan menyatakan kebohongannya. Kamu bisa berubah. Tuhan bisa mengubahkan kamu. Ini bukan tentang terapi reparatif. Ini tentang iman. Kebanyakan mantan LGBT yang saya kenal tidak pernah menjalani terapi reparatif. Satu hal yang sama adalah mereka telah menemukan sesuatu yang lebih baik dari sekedar seksualitas, mereka telah menemukan Yesus Kristus.</span><br /><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Mantan LGBT ada dan kami tidak akan ke mana-mana. Tidak ada yang bisa menutup mulut kami. Tidak ada yang bisa memberhentikan kami karena kami ada di pihak Tuhan. Ini bukanlah karya manusia belaka. Ini bukan karya ilmiah belaka. Ini adalah karya ajaib Tuhan Pencipta.</span><br /><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Lewat para mantan LGBT Tuhan sedang mematahkan kebohongan si jahat. Tuhan memanggil semua orang kepada pertobatan, tidak hanya mereka yang bergumul dengan ketertarikan sesama jenis tetapi semua orang. Perubahan itu mungkin!</span><br /><br /><span style="color:rgb(28, 30, 33)">Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap,tetapi kalau berasal dari Tuhan, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Tuhan." Nasihat itu diterima. Kisah Para Rasul 5:38-39</span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Transgender? Transformasi!]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/transgender-transformasi]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/transgender-transformasi#comments]]></comments><pubDate>Fri, 28 Dec 2018 10:25:30 GMT</pubDate><category><![CDATA[klub]]></category><category><![CDATA[perkosaan]]></category><category><![CDATA[pesta narkoba]]></category><category><![CDATA[pesta seks]]></category><category><![CDATA[waria]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/transgender-transformasi</guid><description><![CDATA[       Awal MulaMichael Edward Ukus adalah nama saya. Maksud dari saya menulis riwayat kehidupan saya untuk membuktikan bahwa Tuhan sungguh ada dan penyertaanNya dalam hidup saya tidak pernah berhenti.Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kami sekeluarga tinggal di Manado. Setelah masuk universitas Kristen di Manado untuk belajar teologi, orang tua kami ternyata sudah diambang perceraian. Tiba-tiba kami menerima surat dari pengadilan bahwa kami harus menghadiri sidang pereraian orang tua  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/ekelid_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph"><strong>Awal Mula</strong><br /><br />Michael Edward Ukus adalah nama saya. Maksud dari saya menulis riwayat kehidupan saya untuk membuktikan bahwa Tuhan sungguh ada dan penyertaanNya dalam hidup saya tidak pernah berhenti.<br /><br />Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kami sekeluarga tinggal di Manado. Setelah masuk universitas Kristen di Manado untuk belajar teologi, orang tua kami ternyata sudah diambang perceraian. Tiba-tiba kami menerima surat dari pengadilan bahwa kami harus menghadiri sidang pereraian orang tua kami. Jujur hati kami sebagai anak sangat sedih mendengar berita ini. Ayah saya menghilang sehingga mama kami harus berjuang mencari nafkah untuk bisa membiayai segala kebutuhan kami. Dan kami sangat sedih karena melihat perjuangan mama yang seringkali membuat dia sakit bahkan jatuh pingsan karena kelelahan. Dan peristiwa ini yg membuat saya secara pribadi hancur dan tidak sanggup lagi melanjutkan perkuliahan saya. Menurut saya tidak ada gunanya lagi saya lanjutkan kuliah teologia ini kalau orang tua saya bercerai. Akhirnya saya tidak lagi ada semangat untuk belajar dan tidak pernah lagi mengikuti kegiatan-kegiatan kerohanian di tempat saya kuliah. Dan di kesempatan itulah Iblis mengambil keuntungan.</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Pada waktu itu saya sedang sendirian di taman dekat asrama saya sementara ada beberapa kumpulan mahasiswa tingkat atas yang sedang kumpul-kumpul di kamar kakak kelas. Karena melihat saya lagi sendirian di taman, salah satu dari mereka mengajak saya bergabung dengan mereka. Di kamar itu mereka sedang asyik bernyanyi dengan gitar sambil minum-minuman beralkohol khas manado (Cap Tikus). Karena udara di situ sangat dingin, saya pun diajak minum bersama mereka sekedar menghangatkan tubuh saja. Namun tidak disangka, pada saat itulah mereka menelanjangi saya dan mulai melakukan hal yang tidak senonoh. Mereka berjumlah 13 orang. Saya teriak dan langsung keluar dari kamar itu sambil menangis karena terkejut akan perbuatan mereka.<br /><br />Saya sangat kesal dan sedih karena bersamaan dengan keadaan orang tua saya yang sedang dalam masalah, ada lagi peristiwa buruk yang terjadi pada saya. Saya kecewa terhadap keluarga saya bahkan kepada orang-orang yang mengaku anak Tuhan tapi kelakuannya tidak sesuai. Setelah peristiwa tersebut kakak kelas saya bolak-balik ke kamar saya hanya untuk melakukan hal yang tidak senonoh itu dengan saya berkali-kali. Awalnya saya sangat tidak suka dengan perbuatan mereka tapi lama-lama saya mulai menikmati apa yang kami lakukan. Saya pun memutuskan untuk menjalani kehidupan seperti itu selama saya berkuliah di Universitas tersebut. Akhirnya perbuatan kami diketahui oleh Rektor dan saya pun dipanggil untuk menghadap. Saya pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari kampus tersebut.&nbsp;<br /><br />Setelah terjadi beberapa peristiwa yang membuat kedua orang tua kami bercerai, kami bertiga satu demi satu pindah ke Jakarta. Kami sama-sama berjuang dan berharap mungkin dengan jalan ini dapat mengubah keadaan ekonomi keluarga kami yang sedang melemah. Jujur saja ini merupakan kesalahan saya karena telah meninggalkan Tuhan. Saya sempat melayani beberapa waktu yang lalu tetapi karena kecewa terhadap keluarga, akhirnya saya pun memutuskan untuk lari dari panggilan saya. Keadaan inilah yang membuat saya frustasi karena malu dan takut untuk kembali ke jalanNya.<br /><br /><strong>Perjalanan Hidup Yang Menyakitkan</strong><br /><br />Hari demi hari kami lewati dengan keadaan yang tidak menyenangkan dengan kebutuhan-kebutuhan kami yang semakin besar: biaya kuliah adik dan biaya hidup di Jakarta. Keadaan ini membuat saya mengambil keputusan yang salah sehingga membuat saya semakin jauh dari Tuhan. Di dalam benak saya hanya uang dan uang. Saya bergaul dengan orang-orang yang tak punya tujuan. Saya terlibat dengan obat-obatan terlarang dan dalam pergaulan bebas. Saya pun terikat dengan dosa homoseksual. Nafsu dan cinta akan uang membuat saya buta dan tidak peduli lagi akan yang lain. Saya memiliki teman-teman yang menurut saya paling mengerti keadaan saya. Saya tinggalkan keluarga saya dan memilih masuk ke kehidupan yang jahat ini semakin dalam.&nbsp;<br /><br />Tiap malam saya habiskan bersama-sama teman-teman saya di pub dan diskotik bahkan sampai berhari-hari di dalam ruangan sambil pesta narkhoba dan sabu. Meskipun kami mempunyai beberapa kenalan yang berduit dan memberikan kami obat-obatan secara gratis tapi kami pun tetap harus mencari uang. Kalau uang saya habis mau tidak mau saya pun harus menelpon mama minta uang dengan bermacam-macam alasan. Setelah mendapat uang, saya kembali bergabung dengan teman-teman saya untuk pesta narkoba dan sabu. Tidak hanya itu saja. Karena dorongan nafsu yang kuat, saya pun mencari laki-laki bayaran untuk dapat melampiaskan nafsu saya berkali-kali. Bahkan kami melakukan seks bersama-sama dengan teman-teman saya di dalam satu kamar dengan beberapa lelaki tanpa rasa malu.<br /><br />Yang paling mengikat saya dan menyiksa saya adalah nafsu seks ini. Sampai saya harus mencari dan mencari siapa saja yang saya mau yang penting nafsu saya terpenuhi.&nbsp; Saya semakin terikat dengan dosa ini sampai di satu titik di mana saya merasa tidak cukup kalau hanya berhubungan dengan satu laki-laki saja.&nbsp; Sering saya melakukannya dengan 2, 3 bahkan pernah 5 laki-laki sekaligus meskipun saya harus membayar mereka dengan uang dan minuman. Semuanya itu saya lakukan karena nafsu saya yang besar<br /><br />Hidup saya semakin rusak dan hancur. Sampai saya harus mencari uang dengan berdiri di pinggir jalan sebagai seorang waria tiap kali pulang dari pub hanya untuk mencari kepuasan tanpa rasa malu sedikit pun, yang penting saya dapat yang saya mau. Saya berhenti hanya saat saya lelah atau lagi tidak enak badan tapi kemudian kembali melakukan hal ini lagi. Sempat timbul di dalam benak saya untuk berubah total yaitu dengan operasi untuk menjadi wanita seutuhnya. Saya sudah mencoba mencari tempat operasi transgender yang bagus. Saya bekerja guna mengumpulkan uang tetapi uangnya selalu habis. Saya kerja lagi dengan menjual perempuan muda kepada bapak-bapak hidung belang hanya untuk narkhoba dan nafsu. Bahkan saya pun sering menjual diri saya kepada om-om juga. Beberapa kali Tuhan mengingatkan saya bahkan berbicara dari dalam hati saya untuk kembali. Saya memang sempat berhenti tapi saya kembali lagi melakukan hal yang jahat ini.<br /><br />Saya menangis dan semakin tak mampu untuk keluar dari dosa ini. Semakin saya mencoba, semakin saya jatuh lebih dalam. Sempat terpikir dalam hati kalau mungkin memang saya tidak akan bisa kembali lagi ke jalan Tuhan. Saya mulai menyalahkan keluargaku dan diriku sendiri sehingga membuat saya berpikir kalau tidak ada yang dapat membantuku. Keluargaku sudah menyerah dalam memberiku nasehat. Saya tidak peduli lagi. Saya semakin berontak dan beranggapan, &ldquo;Karena sudah hancur biarlah hancur.&rdquo; Saya tidak peduli dengan keadaanku lagi. Yang penting buat saya keinginan tercapai, yaitu uang, obat-obatan dan seks. Tujuan saya melakukan semua ini karena saya kesal dengan orang tua saya apalagi terhadap ayah saya. Orang tua saya akhirnya memutuskan untuk mencari pasangan mereka masing-masing.&nbsp;<br /><br /><strong>Perubahan</strong><br /><br />Saya terikat dengan dosa homoseks dan narkoba kurang lebih tujuh tahun. Saya sempat overdosis dan paru-paru saya hancur. Dokter telah memvonis hidup saya tidak lebih dari 1 bulan tapi karena doa, saya sembuh. Setelah sembuh, saya masih sempat lagi jatuh dalam dosa yang sama sampai akhirnya Tuhan menegur saya. Waktu itu saya berada di kapal laut dari Manado ke Tahuna bersama mama dan papa tiri saya pada tahun 2008 akhir. Tidak disangka-sangka di tengah lautan kami diterpa ombak dan angin kencang. Saya ingat waktu itu sudah pukul 9 malam. Kejadian ini tidak pernah saya alami sebelumnya. Kami dapat ranjang di dek 2. Tiba-tiba kapal yang kami tumpangi goyang miring ke kiri dan ke kanan sehingga pintu-pintu kamar hancur karena dihantam ombak. Orang-orang sudah berteriak termasuk mama. Para ibu-ibu sudah menangis ketakutan.<br /><br />Goncangan ini berlangsung kurang lebih 8-9 jam. Ya Tuhan&hellip; Belum pernah saya rasakan ketakutan yang luar biasa ini. Barang-barang para penumpang sebagian telah dibuang ke laut. Lampu kapal sudah mulai redup. Kami para penumpang sudah memakai pelampung buat jaga-jaga. Para ABK (Anak Buah Kapal) sudah memberikan kami petunjuk untuk menunggu aba-aba dari mereka. Jika mereka bilang lompat, baru lompat. Para penumpang sudah berulang-ulang bernyanyi lagu-lagu rohani. Ada yang menangis dan semuanya dengan sikap berjaga-jaga. Barang-barang sudah berjatuhan dan badan kapal terdengar bunyi-bunyi seperti ada retakan. Saya ketakutan sekali apalagi melihat mama sudah menangis terisak-isak. Dalam keadaan itu saya hanya berpikir satu hal, yaitu dosa-dosa saya. Semuanya seakan-akan muncul di depan saya seperti layar, semua yang saya lakukan. Saya tidak dapat berkata-kata lagi. Yang saya tahu: kalau saya mati hari ini saya pasti langsung ke neraka tapi saya teringat mama saya. Saya sangat mengasihi mama dan tidak mau mama mati hanya karena saya. Mama tidak layak menderita atau mengalami hal ini hanya karena kesalahan saya. Saya pingin menangis tapi tidak bisa karena rasa takut yang luar biasa.<br /><br />Akhirnya tiba-tiba saya merasakan sesuatu dalam hati saya yang mendorong saya untuk berdoa. Kata-kata saya waktu itu adalah, &ldquo;Tuhan aku tahu aku telah berdosa tetapi aku tidak mau melihat mama menderita karenaku. Aku tahu mama tidak berhak menerima kejadian ini. Aku mohon Tuhan kalaupun hal ini terjadi, meskipun aku harus mati tetapi biarlah mama tetap hidup. Namun, jikalau aku masih bisa meminta kepadaMu, dan Engkau berkenan, aku mohon Tuhan jika Engkau membuat kami selamat dari peristiwa ini aku berjanji kepadaMu, aku akan kembali dan aku akan bertobat dan melayaniMu seumur hidupku.&rdquo; Saat aku selesai berdoa dan membuka mata, saya melihat dengan jelas tepat di ujung kapal ada seseorang memakai baju putih berjalan mengelilingi pinggir kapal dengan tanganNya yang satu memegang pinggir kapal dan tanganNya yang satu lagi menyentuh dinding kapal. Tempat tidur saya waktu itu tepat berada di depan pintu dan pintu itu sudah hancur karena ombak. Jadi saya melihat sangat jelas wujud itu dan tatapanNya mengarah kepada saya. TatapanNya seakan berbicara kepada saya bahwa tidak ada satupun yang akan celaka dan kami akan tiba dengan selamat.&nbsp;<br /><br />Setelah penglihatan itu, saya teringat akan mimpi saya sebelumnya. Di mimpi saya waktu itu saya sedang berada di kapal tetapi anehnya kapal itu penuh dengan mayat. Dan sayalah satu-satunya penumpang yang masih berdiri sambil melihat mayat-mayat itu. Sebelumnya saya tidak mengerti maksud mimpi saya itu tetapi setelah kejadian di kapal dan betapa tidak ada satu orang pun yang celaka, baru saya mengerti bahwa kalau bukan karena Tuhan kami semua sudah menjadi mayat di dalam kapal itu<br /><br />Peristiwa inilah yang membawa saya kembali kepada Tuhan. Tuhan mengubah hidup saya dengan caraNya. Apa yang tidak mungkin bagi manusia bahkan yang paling mustahil sekalipun adalah mungkin bagi Tuhan. Saya memang tidak pandai dan saya memang tidak seperti orang-orang yang lain yang memiliki segalanya tetapi satu hal yang saya tahu adalah bahwa Tuhanlah yang menyelamatkanku. Tuhanlah yang membawaku kembali. Tuhanlah yang memulihkanku dan Dialah yang mengubah hatiku dan Dialah yang membawa aku kepada kemuliaanNya. Dia yang membuatku percaya kalau Dia ada dan hidupku sangat berarti bagiNya. Dialah alasannya. Sungguh tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan betapa dahsyat dan Luar biasanya Dia. Hidupku hanya karena belas kasihanNya dan kasih karuniaNya.<br /><br />Dialah yang membuatku yakin untuk terus maju dan memberikanku keberanian untuk semakin mendekat kepadaNya. Saya percaya semakin saya mendekat kepadaNya, semakin saya serupa dan segambar denganNya. Dialah yang akan mengubah hidupku dan menjadikanku sempurna karena kesempurnaanNya menutupi kekurangan dan kelemahanku. Hidupku hanya bagi Dia selamanya. Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak percaya kepadaNya. Terlalu banyak perbuatanNya dalam hidupku. Terima kasih Tuhan Yesus.<br /><br />Kiranya kesaksian saya ini menjadi berkat dan memotivasi siapapun yang membacanya untuk tetap di dalam Tuhan. Seberapa besar masalahmu ingatlah bahwa Dia jauh lebih besar dari masalahmu. Siapapun engkau, yakinlah engkau berharga di mata Tuhan. Kita mungkin tidak bisa melihat Dia tetapi Dia selalu memperhatikan kita, mengawasi kita. Dia Tuhan yang mengasihi kita. Meskipun kita tidak menyadarinya, Dia ada dan selalu berada di dekat kita. Tidak ada yang mustahil bagi Dia asalkan kita percaya.<br /><br /><strong>Ingatlah</strong><br />Kejarlah Dia dengan hatimu. Kejarlah Dia dengan cintamu dan hasratmu. Engkau tidak akan menyesal!&nbsp;<br />Kerjakan keselamatanmu dan panggilanmmu. Tetap setia dan jangan menyerah. Karena saya percaya bahwa jika kita sungguh-sungguh mengejar dan menantikan Dia, kita pasti akan mendapatkan dan menemukanNya.<br /><br /><strong>Doa</strong><br />Saya berdoa siapapun kita, apapun latar belakang kita, kita satu di dalam Tuhan. Dan biarlah kita tetap kuat di dalam Tuhan yang mengerjakan semuanya bagi kemuliaanNya.&nbsp;<br />Ya Tuhan biarlah kiranya Engkau menyatakan diriMu kepada mereka, seperti Engkau menyatakan diriMu kepadaku. Aku percaya seperti Engkau mengasihiku, demikian juga Engkau mengasihi mereka.<br />Terima kasih Tuhan Yesus,<br />Amin</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mantan Pemimpin Gay Sekarang Pemimpin Holy Life]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/mantan-pemimpin-gay-sekarang-pemimpin-holy-life]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/mantan-pemimpin-gay-sekarang-pemimpin-holy-life#comments]]></comments><pubDate>Wed, 26 Dec 2018 09:07:22 GMT</pubDate><category><![CDATA[bar gay]]></category><category><![CDATA[buddhis]]></category><category><![CDATA[homoseks]]></category><category><![CDATA[klub]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/mantan-pemimpin-gay-sekarang-pemimpin-holy-life</guid><description><![CDATA[       Saya adalah seorang pendeta di gereja Calvary Chapel dan pemimpin dari sebuah gerakan mantan gay "Holy Life" (Hidup Kudus). Entah kenapa saya mulai tertarik pada lelaki lain di masa remaja. Saya pun mulai hidup sebagai seorang homoseks. Saya pikir saya terlahir seperti itu. Saya merasa malu dan bersalah sehingga saya tidak mau memberitahukan ke siapa-siapa tentang hal ini. Saya pun pelan-pelan mulai masuk ke dalam kehidupan gay.Saya bekerja di sebuah teater pada usia 20-an dan saya juga p [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/jonahid_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph">Saya adalah seorang pendeta di gereja Calvary Chapel dan pemimpin dari sebuah gerakan mantan gay "Holy Life" (Hidup Kudus). Entah kenapa saya mulai tertarik pada lelaki lain di masa remaja. Saya pun mulai hidup sebagai seorang homoseks. Saya pikir saya terlahir seperti itu. Saya merasa malu dan bersalah sehingga saya tidak mau memberitahukan ke siapa-siapa tentang hal ini. Saya pun pelan-pelan mulai masuk ke dalam kehidupan gay.<br /><br />Saya bekerja di sebuah teater pada usia 20-an dan saya juga pemilik sebuah toko baju dan perancangnya. Setelah bisnis saya gagal, saya memutuskan untuk menjadi seorang biarawan buddhis. Tetapi waktu saya berusia 27 tahun, ibu saya yang mengetahui jati diri saya, meninggalkan sebuah pesan yang putus asa dan bunuh diri karena dia tidak bisa membujuk saya untuk kembali. Saya pun hidup sebagai seorang pecundang setelah kematiannya. Di waktu usia 30 tahun, seorang wanita memperkenalkan saya kepada Kristus dan saya pun bertemu dengan Yesus. Saya menjadi seorang Kristen tetapi tetap hidup sebagai seorang homoseks. Tidak ada yang mengajarkan kepada saya apa kata firman Tuhan tentang homoseksualitas.</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">&#8203;Saya pun mulai menjalankan bar gay dan klub waria di Itaewon dan saya berhasil. Saya menjadi terkenal karena mengadakan acara disko dan host clubs. Ada sekitar 70 orang gay di klub saya dan saya membuka sebuah klub waria di Jepang dan menghasilkan banyak uang. Bisa dibilang saya adalah pemimpin para gay di Korea dan saya memimpin 200 orang gay. Saat itu saya adalah seorang Kristen yang mengasihi Tuhan. Hasrat saya untuk Tuhan tidak berhenti di hati saya saja. Saya pun masuk ke sebuah seminari tetapi saya masih seorang homoseks dan tidak sadar kalau itu adalah sebuah dosa. Saya memiliki keinginan yang membara untuk menjadi seorang penginjil untuk menolong para homoseks.<br /><br />Setelah Olimpiade di Seoul pada 1988, pemerintahan Korea menetapkan Itaewon sebagai area kriminal dan mulai menutup semua klub karena anak-anak para politisi besar memakai narkoba di situ. Empat klub yang saya memiliki bangkrut dan apartemen saya disita. Akhirnya saya pun lari ke Jepang. Di situ saya menjalankan sebuah klub dengan para waria sebagai seorang Kristen. Suatu saat di malam hari, seorang malaikat kematian mulai mencekik saya dan saya merasa sekarat.<br /><br />Saya memiliki kesempatan untuk konseling dengan Yonggi Cho, pendeta gereja Yoido Sunbokeum, yang sedang berkunjung di Tokyo. Dia menyuruh saya menjadi seorang pendeta dan meninggalkan semuanya. Dan karena inilah saya tahu itu adalah panggilan Tuhan. Saya pun masuk ke sekolah teologi dan membersihkan semua klub-klub saya.<br /><br />Di situ saya bertemu dengan pak pendeta Hirano Koo E Chi. Saya dengar tentang gereja Calvary Chappel di AS dari dia. Dia membuka Alkitab dan mengajarkan kepada saya bahwa homoseksualitas adalah sebuah dosa dan dia berkata kita tidak bisa masuk ke dalam kerajaan Tuhan kalau itu masih terus ada dalam hidup kita. Saat itu saya sadar bahwa homoseksualitas bukanlah bawaan lahir dan saya pun mulai menyelidiki hanya kebenaran Alkitab untuk keluar dari kebiasaan dosa.<br /><br />Setelah tahun ketiga, saya memiliki pengalaman khusus dengan Roh Kudus pada suatu kelas di tanggal 4 Juli 1991. Saya mengalami seperti semua roh-roh jahat diusir dari diri saya dan saya pun menjadi pribadi yang baru Usia saya 43 tahun pada saat itu.<br /><br />Setelah kembali ke Korea, saya memulai gereja Calvary Chapel dan fokus kepada pencarian kebenaran firman Tuhan. Sama seperti rasul Paulus menghabiskan waktu 3 tahun hanya untuk mempelajari firman Tuhan di Arabia setelah dia menerima Yesus. Untuk mengenal lebih dalam lagi selama 12 tahun saya mulai menulis catatan-catatan kaki dari kitab Kejadian hingga Wahyu.<br /><br />Di Korea homoseksualitas pun menjadi masalah sosial dan gereja-gereja di Korea mulai berkampanye melawannya. Saya pun sempat terlibat di dalamnya tetapi kemudian Tuhan memberikan saya arahan yang berbeda. Jadi saya mendirikan sebuah gerakan mantan gay yang disebut "Holy Life" Saya pun memulai suatu gerakan pemulihan untuk menjangkau kaum homoseks. Setiap tahun saya melakukan kegerakan untuk hak-hak kaum mantan gay dengan mengadakan festival kudus untuk mengimbangi festival gay.<br /><br />Homoseksualitas adalah dosa berat yang bisa menghancurkan hidup. Itu adalah pekerjaan Iblis untuk membuat umat pilihan Tuhan gagal. Jadi janganlah kita melihat kaum gay sebagai obyek untuk kita kritik habis-habisan tetapi sebagai domba-domba yang perlu dipelihara. Kita perlu memberitakan Injil kepada mereka untuk memulihkan mereka supaya kita menjadi penuai-penuai di akhir zaman. Itulah kehendak Tuhan.<br /><br />Alkitab berkata kepada kita, "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 18:10) Homoseksualitas adalah sebuah kebiasaan dosa yang bisa dikalahkan. Tetapi homoseksualitas butuh pengampunan dalam nama Yesus Kristus karena itu adalah sebuah masalah rohani yang perlu ditangani oleh Tuhan supaya mereka akhirnya menerima Roh Tuhan sebagai hadiah.<br /><br />Dari hamba Yesus, Jonah Lee.</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Bunyikan Alarmnya]]></title><link><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/bunyikan-alaramnya]]></link><comments><![CDATA[http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/bunyikan-alaramnya#comments]]></comments><pubDate>Thu, 13 Apr 2017 10:17:47 GMT</pubDate><category><![CDATA[bunuh diri]]></category><category><![CDATA[depresi]]></category><category><![CDATA[gay]]></category><category><![CDATA[hak LGBT]]></category><category><![CDATA[waria]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/bunyikan-alaramnya</guid><description><![CDATA[    Robert Wenman   Banyak transjender yang menyesalkan apa yang mereka lakukan terhadap tubuh dan jiwa mereka. Beberapa memohon kepada yang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama.Robert Wenman sudah hidup "sepenuhnya" sebagai seorang wanita transjender di Ontario Canada selama 4 tahun ketika seorang petugas polisi bertanya kepadanya, "Kamu sudah mendapatkan semua hak-hak legal sekarang. Kenapa kamu masih tidak menikmati hidup sebagai seorang wanita?"Pertanyaan ini membuat mantan aktifis  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0px;margin-right:0px;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/editor/robertid.jpg?1508748878" alt="Picture" style="width:1329;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%">Robert Wenman</div> </div></div>  <div class="paragraph">Banyak transjender yang menyesalkan apa yang mereka lakukan terhadap tubuh dan jiwa mereka. Beberapa memohon kepada yang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama.<br /><br />Robert Wenman sudah hidup "sepenuhnya" sebagai seorang wanita transjender di Ontario Canada selama 4 tahun ketika seorang petugas polisi bertanya kepadanya, "Kamu sudah mendapatkan semua hak-hak legal sekarang. Kenapa kamu masih tidak menikmati hidup sebagai seorang wanita?"<br /><br />Pertanyaan ini membuat mantan aktifis LGBT gagu. Dia di situ untuk melatih sekelompok petugas hukum tentang hak-hak transjender, tetapi dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang mendasar: Kenapa? Kenapa dia masih berkampanye, masih bergumul?<br></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Lagi pula, sistem layanan kesehatan Kanada lah yang membayar operasi kelaminnya dan masa istirahat 10 hari lamanya setelah operasi. Pengadilan juga telah mengganti catatan kelahirannya dari Robert John menjadi Rebecca Jean. Dia memiliki pekerjaan yang mapan di Canada Post dengan akses penuh untuk fasilitas perempuan dan keluarganya menerimanya. Wencam bisa dibilang adala contoh sempurna akan waria yang berhasil -jadi kenapa, dia bertanya-tanya, dia masih merasa terus bergumul dengan sesuatu?<br /><br />Selama berhari-hari, Wenman memikirkan pertanyaan tersebut dan memikirkan tentang berbagai cara dia menyalahkan "masyarakat yang tidak toleran" untuk "kehancuran jiwa-jiwa kita". Namun semakin dia menerawang hatinya, semakin jelas kenyataan pahit yang harus dia akui: Dia berkata dia bergumul untuk hak-hak transjender tetapi sebenarnya dia sedang bergumul di dalam hatinya. "Selama ini saya mencoba membetulkan hal-hal di luarnya saja tanpa membetulkan yang di dalam," ujarnya.<br /><br />Ide bahwa ada sesuatu di dalam diri transjender yang perlu dibetulkan sangat dikutuk oleh media-meida besar. Time menebut hak transjender sebagai "perjuangan hak sipil Amerika berikutnya". The New York Times mendukung, menurut kata-kata mereka sendiri, dengan "kekuatan penuh" perjuangan transjender dengan mantan editor Times Andrew Rosenthal menyebut mereka yang mempertanyakan pergerakan transjender sebagai "orang bodoh dan bebal". Tahun ini, National Geographic ikut juga dalam perjuangan transjender dengan mendedikasikan edisi pertamanya kepada "revolusi jender" yang sedang mencuat.<br /><br />Namun, yang tidak ditampilkan dalam cerita-cerita ini adalah ratapan hening orang-orang yang sekarang melihat pengalaman transjender mereka sebagai mutilasi psikologis dan fisik.<br /><br />Walt Heyer, mantan waria yang berumur 76 tahun yang secara terbuka membicarakan penyesalannya, berkata bahwa dia menerima e-mail secara teratur dari pria dan wanita transjender yang putus asa yang menemukan dia melalui websitenya sexchangeregret.com. Banyak dari mereka yang telah mengalami operasi yang permanen dan sekarang menyesalinya. Mereka menulis kepadanya merasa ketakutan dan tak berdaya: Apa yang saya harus lakukan sekarang? Saya merasa seperti mau mati.<br /><br />Heyer mengatakan bahwa setiap orang yang menghubungi dia menyatakan ada masa kecil yang traumatis dan luka batin. Cerita mereka yang memedihkan serupa dengan pengalaman Heyer sendiri yaitu "transjenderisme adalah sebuah istilah yang memayungi sekelompok gangguan mental yang belum diobati". Dan konsekuensinya sangat menghancurkan.: Menurut penelitian, tingkat bunuh diri di antara transjender dewasa yang telah melakukan terapi horman dan mengalami operasi adalah 20 kali lebih tinggi. Sementara penelitian tahun 2014 mendapatkan bahwa 63% pasien yang didiagnosa dengan gender dysphoria (kondisi di mana pasien merasa bermasalah dengan jenis kelaminnnya) memiliki minimal satu gangguan mental yang muncul bersamaan dan 33% memiliki beberapa gangguan depresi mendalam.<br /><br />Saat seorang psikiater memberitahu Robert Wenman bahwa dia memiliki gender dysphoria dan menasihatinya untuk berubah menjadi wanita, setiap bagian hidupnya yang lepas seperti menyatu, "Ya! Itu dia: Saya sebenarnya seorang wanita dalam tubuh pria!"<br /><br />Wenman dari dulu adalah anak yang pemalu dan kesepian yang suka berdansa shimmy dengan stoking, korset, dan gaun ibunya dalam kegelapan tersembunyi lemari dinding kamarnya. Semakin dia berpakaian wanita, semakin "tumbuh kecanduan yang membesarkan sebuah monster". Sebagai seorang dewasa, dia melewati masa-masa bulemia (makan kemudian dimuntahkan): belanja pakaian wanita besar-besaran untuk berparade di rumah, kemudian membuang itu semua karena malu dan siklusnya pun berulang.<br /><br />Jadi di tahun 1991 saat seorang ahli transjender mengatakannya untuk berubah menjadi seorang wanita, Wenman berpikir bahwa itu akan memecahkan segala masalahnya. Dia pun berterus terang kepada keluarganya, turun 23 kg, mencukur jenggotnya, memanjangkan rambut pendeknya hingga sepinggang, memulai terapi hormon, dan menggantikan dokumen-dokumennya secara legal. Enam tahun kemudia, dia terbang ke Inggris dan mengalami operasi kelamin dan kembali ke Kanada dengan perasaan gegap gempita: "Saya seakan-akan bisa menari di jalanan. Rasanya seperti misi tercapai!"<br /><br />Tapi rasa pencapaian ini tidak bertahan lama. Dengan tinggi badan 182 cm dan tangan yang besar dan maskulin, juga suara yang maskulin, Wenman bergumul untuk bisa dianggap wanita dan takut berada di muka umum. Satu tatapan aneh dari orang tak dikenal bisa menyebabkan derita berhari-hari dalam dirinya. Dia takut akan anak-anak -mereka ternganga kepadanya jelas-jelas. "Bukannnya merasa bebas, saya merasa seperti seorang kriminal. Saya menjadi semakin paranoid."<br /><br />Di luar, Wenman melakukan kegiatan sukarelawan dengan kaum transjender, ikut dalam parade LGBT/feminis, bersenang-senang dengan sesama waria di bar setempat, dan memberitakan bahwa jender adalah konsep psikologis. Sementara di dalam, dia mengalami kekacauan emosional. Depresi kronisnya mulai mempengaruhi kinerja kerjanya dan di tahun 2009, setelah 28 tahun bekerja, dia kehilangan pekerjaannya. Saat bunuh diri terlihat lebih baik daripada terus hidup, Wenman memutuskan untuk mencari sebuah gereja. Dia menemukan gereja di mana dia sadar, "Saya telah berperang dengan jiwa saya. Saya berdosa terhadap Tuhan, terpenjarakan oleh rasa bersalah dan rasa malu."<br /><br />Setelah 17 tahun hidup sebagai seorang wanita, Wenman, sekarang 60 tahun, telah kembali menjadi seorang pria. Dia memotong pendek rambut putihnya, mengenakan baju wol kotak-kotak, dan celana panjang dari bagian pakaian pria. Karena operasinya tidak bisa dibetulkan, dia bertanya-tanya jika dia bisa menikah dan menangisi kenyataan bahwa dia tidak akan bisa menikmati pelukan anak-anaknya sendiri.<br /><br />Jadi saat dia mendengar kisah suami-suami yang mengaku sebagai waria dan kemudian meninggalkan keluarganya, Wenman bersedih, "Saya ingin mengguncangkan mereka dan berteriak, 'Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan! Kamu melepaskan keluargamu untuk sesuatu yang tidak nyata!' Tetapi saya juga tahu betapa kuatnya perasaan itu karena saya mengalaminya sendiri. Rasanya hampir kesurupan." Namun perasaan itu masih bisa dikalahkan, Wenman berkata sambil mengutip Yohanes 8:32, "Kebenaran akan memerdekakan kamu."</div>  <div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0px;margin-right:0px;text-align:center"> <a> <img src="http://www.notthesamelove.com/uploads/7/7/5/1/77514010/kathyid_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%">Kathy Grace Duncan</div> </div></div>  <div class="paragraph">Seperti kebanyakan anak perempuan, Kathy Grace Duncan membentuk pandangannya awal tentang wanita dengan melihat ibunya. Yang diia lihat adalah pribadi yang lemah, ringkih, dan teraniaya. Kapan saja ayahnya menganiaya ibunya, ibunya akan diam-diam masuk ke kamarnya dan menangis. Selagi dia mendengarkan ibunya menangis, Kathy berpikir, "Dia perempuan dan saya juga tetapi saya tidak mau seperti dia." Orang tua Duncan tidak dekat dengannya namun ayahnya memberi perhatian yang banyak pada adik laki-lakinya. Dia pun menyimpulkan, "Saya perlu menjadi seorang laki-laki supaya bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian."<br /><br />Waktu kecil Kathy berkhayal untuk mengencani wanita-wanita seperti Jaclyn Smith. Namun tidak seperti ayahnya, dia akan menyelamatkan perempuan dari kesulitan, membelikan mereka hadiah-hadiah, dan membuat mereka merasa khusus -semua yang dia tidak dapatkan dan yang dia inginkan. Di usia 16 tahun Kathy siap untuk menjadi pria sempurna itu. Dia memotong pendek rambutnya dengan gaya rambut tahun 70an, mengenakan dua kemeja untuk menyembunyikan dadanya yang telah berkembang, dan berkencan dengan perempuan di taman dan pasar malam. Kathy menyembunyikan dari teman kencannya bahwa dia perempuan.<br /><br />Di usia 19 tahun, Kathy keluar dari rumah orang tuanya dan berubah menjadi laki-laki: dia mengganti namanya secara resmi menjadi Keith, mengenakan celana panjang dan dasi ke kantor, mengalami mastektomi, dan mengencani wanita-wanita. Suntikan hormonnya membuat suaranya makin dalam, bahunya semakin lebar, dan menumbuhkan jenggot di wajahnya. Dalam proses tersebut, dia pun menjadi pengikut Yesus dan sangat terlibat dalam pelayanan gereja. Tidak ada seorangpun di gereja yang tahu bahwa dia adalah seorang perempuan kecuali sepasang orang yang lebih tua yang membimbing dia.<br /><br />Lalu suatu hari, seorang pendeta memanggilnya ke ruangan doa dan bertanya, "Siapakah kamu sebenarnya?" Untuk pertama kalinya, Kathy mengatakan kebenaran, "Saya adalah wanita yang hidup sebagai pria" -ketimbang jawaban standarnya "Saya seorang pria yang dulunya seorang wanita." Sampai hari ini, Kathy tidak tahu apa yang membuat dia mengatakan kata-kata itu kecuali bahwa "Roh Kudus masuk". Yang dia ketahui adalah bahwa dia menginginkan hubungan yang intim dengan Yesus dan dia perlu untuk berterus terang tentang bagaimana Tuhan menciptakan dia. Lalu Kathy mengatakan sesuatu yang lagi-lagi mengejutkan dirinya sendiri dan pendeta itu, "Saya pikir Tuhan memanggil saya untuk menjadi seorang wanita kembali."<br /><br />Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia tidur dengan sangat tenang selama dua hari, "Rasanya seperti tekanan yang sangat berat telah diangkat dari bahu saya. Saya telah berpura-pura dalam hidup selama 11 tahun, terus melacak dan meyakinkan bahwa orang tidak tahu."<br /><br />Butuh sekitar 4 tahun penderitaan untuk Kathy menerima kembali kewanitaannya. Di masa ini dia kehilangan pekerjaannya, jatuh dalam depresi, dan bergabung dengan Portlan Fellowship, sebuah pelayanan Kristen untuk orang-orang yang bergumul dengan homoseks. Dia membuang semua suntikan hormonnya, belanja baju wanita dengan teman-teman perempuannya, dan bahkan mencat kuku kakinya dengan warna merah seperti mobil pemadam kebakaran untuk hari ulang tahunnya -semua ini langkah-langkah besar untuk seseorang yang tadinya sangat membenci setiap jengkal kewanitaannya.<br /><br />Mula-mula orang-orang yang bermaksud baik memberikan dia losion dan alat perias, berharap dia akan berubah dalam sekejap tetapi hatinya harus terlebih dahulu menerima bahwa menjadi wanita itu adalah hal yang baik. Sering kali Kathy merasa capek dan kewalahan, namun dia mengingat iman Abraham saat dia meninggalkan rumahnya untuk pergi ke tanah asing yang Tuhan janjikan. Dan dia pun mengubah doanya menjadi, "OK. Tuhan, lakukan yang Engkau mau. Apa firman-Mu? Aku akan ikut apa yang Engkau firmankan." Sekarang Duncan menerima undangan-undangan ke gereja-gereja dan grup muda/i untuk membagikan kesaksiannya.<br /><br /><a href="http://www.notthesamelove.com/kesaksian2/dulu-aku-banci-dari-kekacauan-hingga-ketertiban">Antoine Bou Ezz</a>, seorang mantan waria dari Beirut, Lebanon, juga mengatakan bahwa dia tidak bisa berdiam diri. Tadinya dia miliki pekerjaan impiannya, pakaian yang bagus-bagus, dan pesta yang gemerlap, namun dia masih berpikir untuk bunuh diri sampai seorang wanita bercerita kepadanya tentang Yesus. Hari berikutnya dia pergi ke gereja dan, hatinya tertusuk, dia pun memohon Yesus supaya dia jadi milik-Nya sepenuhnya. Selagi dia mempelajari Alkitab, Bou Ezz menyadari bahwa transjenderisme pada dasarnya adalah masalah ibadah, "Tuhan menciptakan pria dan wanita. Dia memberkati mereka dan memerintahkan mereka untuk beranak-cucu. Dia tidak menciptakan banci -Kitalah yang memilih untuk melakukan operasi."<br /><br />Maret ini, Bou Ezz merayakan tahun ketiganya sebagai pria Kristen. Tiga tahun lamanya dia memberitakan kepada mereka yang mau mendengarkan, "Yesus telah menyelamatkan saya. Yesus telah mengubah hidup saya. Jika kamu mau kebahagiaan dan kebanaran, serahkan semuanya di kaki Yesus."<br /><br />Diterjemahkan dari:<br /><a href="https://world.wng.org/2017/03/sounding_the_alarm" target="_blank">Sounding the Alarm</a><br /></div>]]></content:encoded></item></channel></rss>